Granger Causality Test --> Jika kedua variabel saling ber-Granger Causality maka ada hubungan coincidence
EViews Menu: Quick --> Group Statistics --> Granger Causality Test
VAR(p) dimana p = lag. Lag yang terlalu besar akan mengurangi degree of freedom.
Data random walk --> tidak stasioner
Jika data tidak stasioner tetap dapat dibuat VAR dengan memasukkan trend sebagai variabel (variabel eksogen --> c @trend) karena menurut Simms data dalam bentuk difference sulit untuk menjelaskan arti ekonominya.
Unsrestricted VAR
Di dalam VAR, signifikansi tidak terlalu penting.
Lag Optimal: View --> Lag structure --> Lag length criteria
Stability model VAR: View --> Lag sructure --> AR root table.
Jika titik berada di luar unit circle --> VAR tidak stabil
Uji Kointegrasi
Johansen --> untuk variabel yang tidak stasioner.
VECM --> model VAR yang direstriksi dengan kointegrasi antar variabel
Model VAR(3) --> VECM(2) dengan first difference
Pengujian Johansen bersifat successive:
Ho: r = r0 --> ditolak
H1: r0 = r0 +1
next,
Ho: r = 1 --> ditolak
H1: r = 2
next,
Ho: r = 2 --> diterima --> rank = 2
H1: r = 3
Variabel terkointegrasi menunjukkan coincide variable.
Yt = BXt + ut
ut = Yt - BXt --> persamaan kointegrasi
E(ut) = 0
Yt - BXt = 0 ; Yt berkoefisien satu
Genhol
c:> genhol namafile.inp
Genhol under DOS
Start Windows --> Open --> Run --> CMD
Census X-13
d11 --> T x C x E
d12 --> T x C
d13 --> T
Normalisasi
Z = (Yi - mean Y)/Standar Deviasi Yi
Cross Correlogram
Quick --> Group Statistics --> Cross Correlogram
(-) Lag --> Cement c GDP(-2)
(+) Lead --> Cement c GDP(2)
Saturday, March 17, 2018
Friday, September 29, 2017
Agro Industri
Permasalahan di Agro Industri adalah kekurangan bahan baku terkait dengan kebijakan hilirisasi seperti kakao. Permasalahan lain adalah lahan sehingga perlu adanya integrasi dengan industri. Jawa sudah jenuh untuk semua komoditi agro. Untuk keperluan lahan sebaiknya di luar Jawa. Contohnya, gula dimana Jawa sudah tidak feasible lagi untuk pabrik gula sehingga sebaiknya dipindah ke Sumatra/Lampung. Akan tetapi memerlukan jaringan irigasi yang baik. Gula menghadapi tantangan swasembada gula, penataan pabrik gula agar terpadu dengan perkebunan, regrouping dari 50 pabrik gula menjadi 20 pabrik gula, pabrik gula tidak memiliki pasokan dari petani sehingga perlu adanya impor gula rafinasi.
Tuesday, April 12, 2016
Dampak Mikro dan Makro Kenaikan PTKP
Hitung dampak kenaikan PTKP secara mikro terhadap PPh 21 dengan menggunakan data wajib pajak yang detail:
Tambahan Disposable Income (delta Yd) = Wajib Pajak x (PTKP1 - PTKP0)
Kemudian hitung dampaknya secara makro:
Tambahan Konsumsi Rumah Tangga = deltaYd x MPC --> akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Effective rate PPN = 7.55% (bukan 10%)
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) = f(r, saving, ....)
delta Saving = Tambahan disposable income x (1-MPC)
delta Saving --> delta PMTB --> Pertumbuhan Ekonomi (Growth)
Inflasi = delta Konsumsi rumah tangga yang naik --> Md naik --> Inflasi naik --> Growth turun
Inflasi = elastisitas x konsumsi rumah tangga
elastisitas konsumsi rumah tangga terhadap inflasi adalah - 0.23
Dampak PMTB terhadap inflasi dalam jangka pendek tidak signifikan.
Tenaga Kerja
% PDB => .... ribu tenaga kerja
Setiap tambahan persentase pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja baru sekian ribu orang
Contoh:
Jika dampak kenaikan PTKP menyebabkan PPh 21 turun sebesar Rp20 triliun maka ada tambahan disposable income sebesar Rp20 triliun yang akan digunakan untuk:
1. Tambahan konsumsi = 0.55 x Rp20 = Rp11 triliun
2. Tambahan investasi = 0.45 x Rp20 = Rp9 triliun
Asumsi: MPC = 0.55 --> kecil karena biasanya 0.6 - 0.7 dan MPS = 0.45
Kemudian tambahan konsumsi dan investasi ini akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi sebesar 0.138 dengan perhitungan:
1. Elastisitas konsumsi x delta konsumsi = 0.006 x 11 = 0.066
2. Elastisitas investasi x delta investasi = 0.008 x 9 = 0.072
Asumsi: elastisitas konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi = 0.006 dan elastisitas investasi terhadai pertumbuhan ekonomi = 0.008
Tambahan Disposable Income (delta Yd) = Wajib Pajak x (PTKP1 - PTKP0)
Kemudian hitung dampaknya secara makro:
Tambahan Konsumsi Rumah Tangga = deltaYd x MPC --> akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Effective rate PPN = 7.55% (bukan 10%)
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) = f(r, saving, ....)
delta Saving = Tambahan disposable income x (1-MPC)
delta Saving --> delta PMTB --> Pertumbuhan Ekonomi (Growth)
Inflasi = delta Konsumsi rumah tangga yang naik --> Md naik --> Inflasi naik --> Growth turun
Inflasi = elastisitas x konsumsi rumah tangga
elastisitas konsumsi rumah tangga terhadap inflasi adalah - 0.23
Dampak PMTB terhadap inflasi dalam jangka pendek tidak signifikan.
Tenaga Kerja
% PDB => .... ribu tenaga kerja
Setiap tambahan persentase pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja baru sekian ribu orang
Contoh:
Jika dampak kenaikan PTKP menyebabkan PPh 21 turun sebesar Rp20 triliun maka ada tambahan disposable income sebesar Rp20 triliun yang akan digunakan untuk:
1. Tambahan konsumsi = 0.55 x Rp20 = Rp11 triliun
2. Tambahan investasi = 0.45 x Rp20 = Rp9 triliun
Asumsi: MPC = 0.55 --> kecil karena biasanya 0.6 - 0.7 dan MPS = 0.45
Kemudian tambahan konsumsi dan investasi ini akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi sebesar 0.138 dengan perhitungan:
1. Elastisitas konsumsi x delta konsumsi = 0.006 x 11 = 0.066
2. Elastisitas investasi x delta investasi = 0.008 x 9 = 0.072
Asumsi: elastisitas konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi = 0.006 dan elastisitas investasi terhadai pertumbuhan ekonomi = 0.008
Tuesday, March 15, 2016
Friday, March 11, 2016
LESSONS LEARNED FROM AUSTRALIAN CURRENT ACCOUNT DEFICIT (CAD)
Bismillaah,
1.
Australia dan Indonesia jelas menghadapi
tekanan yang berbeda berkaitan dengan defisit
transaksi berjalan (current
account deficit/CAD). Konsensus yang berlaku adalah bahwa
negara-negara berkembang seperti Indonesia harus menggunakan alat kebijakan
untuk mengantisipasi dan mengelola volatilitas jangka pendek di sektor
eksternal. Akan tetapi,
ada batas pada langkah-langkah jangka pendek tanpa secara signifikan mengurangi
permasalahan utama pada jangka panjang dan
menciptakan kondisi di mana CAD tidak akan menjadi masalah yang perlu
'dikelola' dalam jangka pendek.
2.
Ada tiga
pesan penting
terkait dengan CAD: pertama, kondisi CAD
belum tentu 'buruk' karena menunjukkan peluang investasi yang lebih besar
dibandingkan tabungan domestik. Kedua, kondisi
CAD tidak selalu berarti kita tidak dapat menghindari ketidakstabilan. Ketiga, pengalaman Australia yang mengkombinasikan
CAD dengan pertumbuhan menunjukkan bahwa Australia
tidak menerapkan kebijakan yang secara khusus di arahkan untuk mengendalikan CAD, neraca perdagangan atau aliran modal. Sebagai penggantinya, Australia memiliki agenda
reformasi struktural jangka panjang; menciptakan lingkungan kehati-hatian yang
ter-regulasi dengan baik; melaksanakan liberalisasi dan memperdalam pasar
keuangan, serta agenda kebijakan yang transparan dan diartikulasikan dengan
baik. Komitmen yang diberikan oleh
pemerintah Australia terhadap agenda yang berbasis memaksimalkan kinerja
ekonomi bersamaan dengan strategi kebijakan dengan parameter yang jelas telah
berhasil tidak hanya mendorong investasi di Australia tetapi juga mengurangi
persepsi risiko pasar berinvestasi di Australia di tengah CAD yang cukup besar.
3.
Ada tiga opsi
untuk Indonesia terkait CAD. Pertama,
reformasi fiskal. Reformasi subsidi BBM adalah langkah yang sangat penting
untuk memperbaiki struktur keseimbangan fiskal. Tapi yang lebih luas adalah
kebutuhan untuk meningkatkan penerimaan perpajakan. Kedua reformasi ini akan
memberikan 'ruang fiskal' untuk menghadapi guncangan, sehingga meningkatkan
kepercayaan pasar terhadap kemampuan Pemerintah Indonesia untuk mengelola
guncangan.
4.
Wilayah kedua yang penting bagi Indonesia adalah
investasi untuk mendorong
stabilitas. Salah satu hal yang paling penting yang dapat dilakukan untuk
mengurangi risiko pelarian modal adalah mengurangi risiko endogen berinvestasi
di suatu negara. Australia berupaya mengurangi risiko endogen melalui proses
reformasi panjang tahun 1980-an dan 1990-an. Kebijakan ini tidak secara eksplisit menargetkan CAD, tetapi lebih
berkaitan dengan reformasi ekonomi secara umum dan membuat perekonomian lebih
fleksibel dan terbuka terhadap perubahan peluang. Indonesia akan tetap
menjadi tujuan yang menarik untuk investasi di masa mendatang, dan itu akan
merugikan potensi pertumbuhan dengan meninggalkan peluang investasi demi
mencoba untuk mengurangi risiko pelarian modal.
5.
Akhirnya,
strategi pertumbuhan berbasis produktivitas
yang dibentuk secara transparan penting untuk
memberikan kepastian kepada pasar dan investor. Ini akan membuka potensi
produktivitas Indonesia melalui reformasi di bidang infrastruktur, modal manusia (human
capital) - meningkatkan mutu pendidikan manusia,
reformasi jaminan sosial.
Subscribe to:
Posts (Atom)