Saturday, March 17, 2018

Uji Coincidence Index

Granger Causality Test --> Jika kedua variabel saling ber-Granger Causality maka ada hubungan coincidence
EViews Menu: Quick --> Group Statistics --> Granger Causality Test

VAR(p) dimana p = lag. Lag yang terlalu besar akan mengurangi degree of freedom.
Data random walk --> tidak stasioner
Jika data tidak stasioner tetap dapat dibuat VAR dengan memasukkan trend sebagai variabel (variabel eksogen --> c @trend) karena menurut Simms data dalam bentuk difference sulit untuk menjelaskan arti ekonominya.
Unsrestricted VAR
Di dalam VAR, signifikansi tidak terlalu penting.
Lag Optimal: View --> Lag structure --> Lag length criteria
Stability model VAR: View --> Lag sructure --> AR root table.
Jika titik berada di luar unit circle --> VAR tidak stabil

Uji Kointegrasi
Johansen --> untuk variabel yang tidak stasioner.
VECM --> model VAR yang direstriksi dengan kointegrasi antar variabel
Model VAR(3) --> VECM(2) dengan first difference

Pengujian Johansen bersifat successive:
Ho: r = r0          --> ditolak
H1: r0 = r0 +1
next,
Ho: r = 1   --> ditolak
H1: r = 2
next,
Ho: r = 2  --> diterima --> rank = 2
H1: r = 3

Variabel terkointegrasi menunjukkan coincide variable.
Yt = BXt + ut
ut = Yt - BXt   --> persamaan kointegrasi
E(ut) = 0
Yt - BXt = 0 ; Yt berkoefisien satu

Genhol
c:> genhol   namafile.inp

Genhol under DOS
Start Windows --> Open --> Run --> CMD

Census X-13
d11 --> T x C x E
d12 --> T x C
d13 --> T

Normalisasi
Z = (Yi - mean Y)/Standar Deviasi Yi

Cross Correlogram
Quick --> Group Statistics --> Cross Correlogram
(-) Lag --> Cement c GDP(-2)
(+) Lead --> Cement c GDP(2)





Friday, September 29, 2017

Agro Industri

Permasalahan di Agro Industri adalah kekurangan bahan baku terkait dengan kebijakan hilirisasi seperti kakao. Permasalahan lain adalah lahan sehingga perlu adanya integrasi dengan industri. Jawa sudah jenuh untuk semua komoditi agro. Untuk keperluan lahan sebaiknya di luar Jawa. Contohnya, gula dimana Jawa sudah tidak feasible lagi untuk pabrik gula sehingga sebaiknya dipindah ke Sumatra/Lampung. Akan tetapi memerlukan jaringan irigasi yang baik. Gula menghadapi tantangan swasembada gula, penataan pabrik gula agar terpadu dengan perkebunan, regrouping dari 50 pabrik gula menjadi 20 pabrik gula, pabrik gula tidak memiliki pasokan dari petani sehingga perlu adanya impor gula rafinasi.

Tuesday, April 12, 2016

Dampak Mikro dan Makro Kenaikan PTKP

Hitung dampak kenaikan PTKP secara mikro terhadap PPh 21 dengan menggunakan data wajib pajak yang detail:

Tambahan Disposable Income (delta Yd) = Wajib Pajak x (PTKP1 - PTKP0)

Kemudian hitung dampaknya secara makro:

Tambahan Konsumsi Rumah Tangga = deltaYd x MPC --> akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Effective rate PPN = 7.55% (bukan 10%)

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) = f(r, saving, ....)

delta Saving = Tambahan disposable income x (1-MPC)

delta Saving --> delta PMTB --> Pertumbuhan Ekonomi (Growth)

Inflasi = delta Konsumsi rumah tangga yang naik --> Md naik --> Inflasi naik --> Growth turun

Inflasi = elastisitas x konsumsi rumah tangga
elastisitas konsumsi rumah tangga terhadap inflasi adalah - 0.23
 
 Dampak PMTB terhadap inflasi dalam jangka pendek tidak signifikan.

Tenaga Kerja
% PDB => .... ribu tenaga kerja
Setiap tambahan persentase pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja baru sekian ribu orang

Contoh:
Jika dampak kenaikan PTKP menyebabkan PPh 21 turun sebesar Rp20 triliun maka ada tambahan disposable income sebesar Rp20 triliun yang akan digunakan untuk:

1. Tambahan konsumsi = 0.55 x Rp20 = Rp11 triliun
2. Tambahan investasi = 0.45 x Rp20 = Rp9 triliun


Asumsi: MPC = 0.55 --> kecil karena biasanya 0.6 - 0.7 dan MPS = 0.45

Kemudian tambahan konsumsi dan investasi ini akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi sebesar 0.138 dengan perhitungan:

1. Elastisitas konsumsi x delta konsumsi = 0.006 x 11 = 0.066
2. Elastisitas investasi x delta investasi = 0.008 x 9 = 0.072

Asumsi: elastisitas konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi = 0.006 dan elastisitas investasi terhadai pertumbuhan ekonomi = 0.008

Friday, March 11, 2016

LESSONS LEARNED FROM AUSTRALIAN CURRENT ACCOUNT DEFICIT (CAD)

Bismillaah,

1.      Australia dan Indonesia jelas menghadapi tekanan yang berbeda berkaitan dengan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Konsensus yang berlaku adalah bahwa negara-negara berkembang seperti Indonesia harus menggunakan alat kebijakan untuk mengantisipasi dan mengelola volatilitas jangka pendek di sektor eksternal. Akan tetapi, ada batas pada langkah-langkah jangka pendek tanpa secara signifikan mengurangi permasalahan utama pada jangka panjang dan menciptakan kondisi di mana CAD tidak akan menjadi masalah yang perlu 'dikelola' dalam jangka pendek.
2.      Ada tiga pesan penting terkait dengan CAD: pertama, kondisi CAD ​​belum tentu 'buruk' karena menunjukkan peluang investasi yang lebih besar dibandingkan tabungan domestik. Kedua, kondisi CAD tidak selalu berarti kita tidak dapat menghindari ketidakstabilan. Ketiga, pengalaman Australia yang mengkombinasikan CAD dengan pertumbuhan menunjukkan bahwa Australia tidak menerapkan kebijakan yang secara khusus di arahkan untuk mengendalikan CAD, neraca perdagangan atau aliran modal. Sebagai penggantinya, Australia memiliki agenda reformasi struktural jangka panjang; menciptakan lingkungan kehati-hatian yang ter-regulasi dengan baik; melaksanakan liberalisasi dan memperdalam pasar keuangan, serta agenda kebijakan yang transparan dan diartikulasikan dengan baik. Komitmen yang diberikan oleh pemerintah Australia terhadap agenda yang berbasis memaksimalkan kinerja ekonomi bersamaan dengan strategi kebijakan dengan parameter yang jelas telah berhasil tidak hanya mendorong investasi di Australia tetapi juga mengurangi persepsi risiko pasar berinvestasi di Australia di tengah CAD yang cukup besar.
3.      Ada tiga opsi untuk Indonesia terkait CAD. Pertama, reformasi fiskal. Reformasi subsidi BBM adalah langkah yang sangat penting untuk memperbaiki struktur keseimbangan fiskal. Tapi yang lebih luas adalah kebutuhan untuk meningkatkan penerimaan perpajakan. Kedua reformasi ini akan memberikan 'ruang fiskal' untuk menghadapi guncangan, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan Pemerintah Indonesia untuk mengelola guncangan.
4.      Wilayah kedua yang penting bagi Indonesia adalah investasi untuk mendorong stabilitas. Salah satu hal yang paling penting yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko pelarian modal adalah mengurangi risiko endogen berinvestasi di suatu negara. Australia berupaya mengurangi risiko endogen melalui proses reformasi panjang tahun 1980-an dan 1990-an. Kebijakan ini tidak secara eksplisit menargetkan CAD, tetapi lebih berkaitan dengan reformasi ekonomi secara umum dan membuat perekonomian lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan peluang. Indonesia akan tetap menjadi tujuan yang menarik untuk investasi di masa mendatang, dan itu akan merugikan potensi pertumbuhan dengan meninggalkan peluang investasi demi mencoba untuk mengurangi risiko pelarian modal.
5.        Akhirnya, strategi pertumbuhan berbasis produktivitas yang dibentuk secara transparan penting untuk memberikan kepastian kepada pasar dan investor. Ini akan membuka potensi produktivitas Indonesia melalui reformasi di bidang infrastruktur, modal manusia (human capital) - meningkatkan mutu pendidikan manusia, reformasi jaminan sosial.